just another prayer

nothing No Comments »

Wish You help me to properly taking care of amanah You have given. Forgive me for these to many wishes, but I certainly can do nothing without Your permission. Help me, tell me things I dont know. Remind me when i fall into pride. You are our only Guardian.

God, Gimme a Clue

nothing No Comments »

This is not easy, to pretend not to hear my gut. It whispers all night, unconsciously guide my lips to spell an orison. Silent, humble but honest prayer from a jumbled heart.

I choosed to stand still and keep my mouth shut, so that I can still have a chance to watch at a close distance. Is this right?

God, gimme a clue, just one but please…be clear

Errors in Sitemap

nothing No Comments »

Ever since I changed my forum software from bbpress to punbb I haven’t got any of the pages indexed by google. Not even the home page. Indeed G-Webmasters Tools reported some errors.

As the detail report told me that it was probably caused by the failure attempt of google bot to reach my server, so that I thought this sitemap problem would be fixed by itself in a day or two and subsequently I took no action.

But look what I get: it persists

dedicated to my childhood friends

nothing No Comments »

I spent large portions of my childhood ages within a beautiful small island; Tarakan. Beautiful, not only because of those green grasses surrounding my yard (which usually attracted some cows to drop by ..hehe) but also those little folks who filled my days with unforgetable moment.

This song bring those memories back…

http://www.youtube.com/watch?v=WiWtHmyrIpc

We grew up together,
Wishing to be friends forever and ever.

Friends we do remain (i hope)

Forex Signals…

nothing Comments Off

i’m considering to stop providing free forex signals. Really I’m not sure whether people hardly need it or not.  Beside that I’m lack of time lately, I mean to write signal post. Trader who has already read and understand my system should be able to generate forex signals theirself. That’s why I provide pivot point calculator, right? So that people can do it theirself

Doing a Great Work

nothing No Comments »

Your work is going to fill a large part of your life, and the only way
to be truly satisfied is to do what you believe is great work.
And the only way to do great work is to love what you do.
If you haven’t found it yet, keep looking, and don’t settle.
As with all matters of the heart, you’ll know when you find it

Mengintip Adsense for Feeds

nothing No Comments »

Merupakan produk terbaru Google Adsense, yang direlease setelah akuisisi Feedburner oleh Google. Untuk mengetahui lebih banyak tentang adsense for feeds, silahkan baca artikel selintas pandang Adsense for Feeds.

Surat cinta Ala Matematikawan

nothing Comments Off

Untuk … tersayang

Tiga minggu yang lalu…
Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai
Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm
Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu
Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…
Kurasakan cintaku bertambah,
bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga
Limit cintaku bagaikan limit tak hingga
Dan aku semakin yakin,
hukum cinta kita bagaikan
hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1

Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua
Dari titik sudut yang berseberangan,
kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang

Semakin hari kurasakan cintaku padamu
bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.
Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik
Kurasakan pula kasihku padamu
bagaikan grafik tangen (90o < x < 270o)

Namun aku bimbang…
Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai
Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear
yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan
Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya

Terharu Baca Ini

nothing Comments Off

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari
demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun
lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri
lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau
membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat
bambu di
tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku,
terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku,
jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak
dipukul!"
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku
mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah
begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau
kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak
dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan
aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka,
tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup
mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi
sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian
untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut
masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8
tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk
masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima
untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok
di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…" Ibu
mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya
sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan
berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup
membaca banyak buku. " Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku
pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat
lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia
mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan
tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan
berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau
tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku
meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun
itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam
dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen
pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk
dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar
sana! "Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan
keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup
debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang
pada teman sekamarku kamu
adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya
adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa
terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak
perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…" Dari sakunya, ia
mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya
kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus
memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah
telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku
pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak
perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal
untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada
tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu
tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan
pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja
dan…" Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku
mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi
mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah
di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.
Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari,
adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia
mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
melakukan sesuatu yang
berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
"Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak
berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti
apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian
keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan
juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian
berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan
itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan
tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada
dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua
jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya
kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari
kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan
perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
"Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai

—————-
dapet dari kaskus

Dou You Believe in God?

nothing Comments Off

An atheist professor of philosophy speaks to his class on the problem science has with God, The Almighty.
He asks one of his new students to stand and…..

Prof: So you believe in God?

Student: Absolutely, sir.

Prof: Is God good?

Student: Sure.

Prof: Is God all-powerful?

Student: Yes.

Prof: My brother died of cancer even though he prayed to God to heal him.
Most of us would attempt to help others who are ill. But God didn’t. How is this God good then? Hmm?

(Student is silent.)

Prof: You can’t answer, can you? Let’s start again, young fella. Is God good?

Student: Yes.

Prof: Is Satan good?
Student: No.

Prof: Where does Satan come from?

Student: From…God…

Prof: That’s right. Tell me son, is there evil in this world?

Student: Yes.

Prof: Evil is everywhere, isn’t it? And God did make everything. Correct?

Student: Yes.

Prof: So who created evil?
Student does not answer.)

Prof: Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things exist in the world, don’t they?

Student: Yes, sir.

Prof: So, who created them?
Sudent has no answer.)

Prof: Science says you have 5 senses you use to identify and observe
the world around you. Tell me, son…Have you ever seen God?

Student: No, sir.

Prof: Tell us if you have ever heard your God?
Student: No, sir.

Prof: Have you ever felt your God, tasted your God, smelt your God?
Have you ever had any sensory perception of God for that matter?

Student: No, sir. I’m afraid I haven’t.

Prof: Yet you still believe in Him?

Student: Yes.

Prof: According to empirical, testable, demonstrable protocol, science
says your GOD doesn’t exist. What do you say to that, son?

Student: Nothing. I only have my faith.

Prof: Yes. Faith. And that is the problem science has.

Student: Professor, is there such a thing as heat?

Prof: Yes.

Student: And is there such a thing as cold?

Prof: Yes.
Student: No sir. There isn’t.

The lecture theatre becomes very quiet with this turn of events.)

Student: Sir, you can have lots of heat, even more heat, superheat,
mega heat, white heat, a little heat or no heat. But we don’t have
anything called cold. We can hit 458 degrees below zero which is no
heat, but we can’t go any further after that. There is no such thing as
cold. Cold is only a word we use to describe the absence of heat. We
cannot measure cold.

Heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it.

(There is pin-drop silence in the lecture theatre.)

Student: What about darkness, Professor? Is there such a thing as darkness?

Prof: Yes. What is night if there isn’t darkness?

Student: You’re wrong again, sir. Darkness is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light….But
if you have no light constantly, you have nothing and it’s called
darkness, isn’t it? In reality, darkness isn’t. If it were you would be
able to make darkness darker, wouldn’t you?

Prof: So what is the point you are making, young man?

Student: Sir, my point is your philosophical premise is flawed.

Prof: Flawed? Can you explain how?

Student: Sir, you are working on the premise of duality. You argue
there is life and then there is death, a good God and a bad God. You
are viewing the concept of God as something finite, something we can
measure. Sir, science can’t even explain a thought. It uses electricity
and magnetism, but has never seen, much less fully understood either
one.

To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact
that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the
opposite of life, just the absence of it.
Now tell me, Professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?

Prof: If you are referring to the natural evolutionary process, yes, of course, I do.

Student: Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?

(The Professor shakes his head with a smile, beginning to realize where the argument is going.)

Student: Since no one has ever observed the process of evolution at
work and cannot even prove that this process is an on-going endeavor,
are you not teaching your opinion, sir? Are you not a scientist but a
preacher? (The class is in uproar.)

Student: Is there anyone in the class who has ever seen the Professor’s brain?

(The class breaks out into laughter.)

Student: Is there anyone here who has ever heard the Professor’s brain,
felt it, touched or smelt it? No one appears to have done so. So,
according to the established rules of empirical, stable, demonstrable
protocol, science says that you have no brain, sir.

With all due respect, sir, how do we then trust your lectures, sir?
(The room is silent. The professor stares at the student, his face
unfathomable.)

Prof: I guess you’ll have to take them on faith, son.

Student: That is it sir… The link between man & God is FAITH. That is all that keeps things moving & alive.

—————————————-

Please ensure that you read clearly before you yell on me or make a judgement !


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in